Tampilkan postingan dengan label Biografi Presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Presiden. Tampilkan semua postingan

2023/08/11

Biografi Soeharto

Soeharto: Presiden RI ke-2

Presiden Indonesia Soeharto, tokoh sentral dalam sejarah Indonesia modern, dalam seragam militer.
Haji Muhammad Soehartoadalah Presiden Republik Indonesia ke-2 yang memainkan peran sentral dalam sejarah modern negara Indonesia. Berawal dari latar belakang petani, Soeharto tumbuh menjadi perwira militer yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan pemadam pemberontakan PRRI/Permesta. Setelah mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 1965, Soeharto memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade dalam masa Orde Baru. Kepemimpinan Soeharto ditandai oleh upaya memajukan ekonomi dan stabilitas politik, sementara juga dikelilingi oleh kontroversi terkait pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan otoritarianisme. Pengunduran diri Soeharto pada tahun 1998 mengakhiri era tersebut, dan warisan politik serta pengaruh keluarganya terus memengaruhi perjalanan Indonesia pasca-Orde Baru.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Soeharto, yang nama lengkapnya adalah Haji Muhammad Soeharto, dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1921 di desa Kemusuk, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai tradisional Jawa. Pendidikan formalnya terbatas, tetapi Soeharto belajar banyak dari pengalaman lapangan dan melalui interaksi dengan masyarakat sekitarnya.

Peran dalam Revolusi 1945

Pada saat Revolusi Indonesia meletus pada tahun 1945, Soeharto berperan dalam pasukan tentara yang melawan penjajahan Belanda. Dalam perjalanan revolusi, ia terlibat dalam sejumlah pertempuran penting, dan kepemimpinannya dalam beberapa tindakan taktis dikenal sebagai salah satu faktor penting dalam perjuangan kemerdekaan.

Gestapu dan G30S/PKI

Namun, citra Soeharto mulai bercampur aduk setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Gestapu, yang diyakini melibatkan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), mengakibatkan tewasnya sejumlah perwira tinggi militer. Soeharto kemudian mengambil inisiatif untuk membawa pihak militer mengambil alih kendali, yang mengakibatkan runtuhnya kekuasaan Presiden Sukarno dan meletusnya kekerasan anti-komunis yang meluas.

Kudeta 1965 dan Kepemimpinan Baru

Kudeta yang dipimpin oleh Soeharto membuka jalan bagi pendiriannya sebagai pemimpin baru di Indonesia. Pada tahun 1967, ia resmi menjadi presiden dan memulai periode kepemimpinan yang dikenal sebagai "Orde Baru". Soeharto mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengambil langkah-langkah tegas melawan PKI dan juga melakukan reformasi ekonomi yang signifikan.

Kebijakan Pembangunan Ekonomi

Salah satu poin kunci dari masa pemerintahan Soeharto adalah fokusnya pada pembangunan ekonomi. Melalui serangkaian program pembangunan jangka panjang, ia berusaha untuk memajukan ekonomi Indonesia dan mengurangi kemiskinan. Program ini mencakup investasi dalam infrastruktur, pertanian, industri, dan sektor-sektor lain yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Dampak Lingkungan dan Pembangunan

Namun, kesuksesan ekonomi yang dicapai di bawah pemerintahan Soeharto juga datang dengan biaya lingkungan yang signifikan. Meskipun program pembangunan ekonomi berhasil meningkatkan taraf hidup banyak orang, dampak negatif terhadap lingkungan seperti deforestasi, degradasi tanah, dan polusi juga semakin meningkat. Ini mengundang pertanyaan tentang keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, serta bagaimana tindakan ini mempengaruhi keberlanjutan jangka panjang.

Hak Asasi Manusia dan Pelanggaran

Rezim Soeharto juga dikenal karena pelanggaran hak asasi manusia yang dilaporkan terjadi selama masa pemerintahannya. Terutama di wilayah seperti Timor Timur dan Aceh, terdapat laporan tentang operasi militer yang diduga melibatkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Kekerasan dan pembatasan terhadap kebebasan berbicara dan berkumpul juga menjadi sorotan, menunjukkan bagaimana perlakuan otoriter dapat mempengaruhi masyarakat secara luas.

Hubungan Internasional

Pada sisi internasional, Soeharto memainkan peran yang signifikan dalam diplomasi regional dan global. Meskipun awalnya bersimpati dengan gerakan non-blok dan merasa dekat dengan blok Barat, ia juga menjalin hubungan dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet dan Tiongkok. Keterlibatannya dalam berbagai forum internasional, seperti Gerakan Non-Blok, memberikan Indonesia peran yang cukup menonjol di panggung dunia.

Korupsi dan Nepotisme

Selama pemerintahannya, tuduhan korupsi dan nepotisme juga muncul dalam berbagai konteks. Ada kritik terhadap keluarga dekat Soeharto yang terlibat dalam bisnis dan mendapatkan keuntungan ekonomi dari posisinya sebagai presiden. Meskipun ada upaya untuk menindak korupsi, perasaan bahwa beberapa pihak terkait pemerintah mendapatkan perlakuan khusus memicu kontroversi dan memunculkan pertanyaan tentang integritas rezim.

Budaya Populis dan Pembentukan Identitas Nasional

Soeharto juga mengambil langkah-langkah untuk mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia sebagai elemen penting dari pembentukan identitas nasional. Bahasa Indonesia diangkat menjadi bahasa resmi, dan program-program nasionalisasi bertujuan untuk menggalang rasa persatuan di antara masyarakat yang beragam budaya dan suku bangsa. Meskipun upaya ini memiliki tujuan positif, juga muncul pertanyaan tentang bagaimana kebijakan-kebijakan ini memengaruhi keragaman budaya dan kebebasan individu.

Krisis Moneter 1997-1998

Pada tahun 1997, Indonesia terjerat dalam krisis moneter Asia yang mengguncang ekonomi negara itu. Meskipun masa-masa sulit ini menguji ketahanan ekonomi dan stabilitas politik Soeharto, reaksi pemerintah terhadap krisis ini juga menunjukkan tanda-tanda keterbatasan dalam mengatasi masalah ekonomi yang muncul.

Protes Mahasiswa 1998 dan Reformasi

Tahun 1998 menjadi titik balik dalam pemerintahan Soeharto ketika terjadi protes mahasiswa yang meluas. Demonstrasi massal menuntut reformasi politik dan ekonomi semakin kuat dan akhirnya memaksa Soeharto mengundurkan diri pada bulan Mei tahun itu. Peristiwa ini mengakhiri era Orde Baru dan membawa Indonesia ke periode reformasi yang ditandai dengan perubahan signifikan dalam tatanan politik dan sosial.

Legacy Politik dan Sosial

Warisan politik dan sosial Soeharto tetap kontroversial hingga hari ini. Di satu sisi, banyak yang mengakui kontribusinya dalam menjaga stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi pada beberapa tahap kepemimpinannya. Namun, di sisi lain, kritik tentang pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan otoritarianisme juga menghantui penilaian sejarahnya. Warisan ini terus memengaruhi pembentukan tatanan politik dan sosial Indonesia pasca-Orde Baru.

Keluarga Soeharto Pasca-Rezim

Meskipun era Soeharto berakhir dengan pengunduran dirinya, keluarganya masih memainkan peran dalam politik dan bisnis Indonesia. Beberapa anggota keluarga menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan setelah reformasi, sementara yang lain terlibat dalam berbagai bisnis dan investasi. Kehadiran keluarga Soeharto pasca-rezim menciptakan dinamika yang menarik dalam pemandangan politik dan ekonomi Indonesia.

Kesimpulan

Artikel ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang perjalanan hidup dan kepemimpinan Soeharto, Presiden Indonesia ke-2. Dari latar belakang sederhana hingga kudeta dan kepemimpinannya yang panjang, Soeharto adalah tokoh yang membagi pendapat banyak orang. Meskipun memiliki prestasi dalam memajukan ekonomi dan stabilitas politik, ia juga dikritik atas pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan kurangnya kebebasan. Warisan politik dan sosialnya terus memengaruhi perjalanan Indonesia pasca-Orde Baru, sementara keluarganya tetap menjadi pemain penting dalam pemandangan politik dan ekonomi negara.

Sejarah Soeharto mengingatkan kita akan kompleksitas pemimpin dan era yang dijalankannya. Dari perannya dalam revolusi hingga akhirnya mengundurkan diri dalam tengah gejolak, ia telah mencatat jejak yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Namun, seperti banyak pemimpin, dia juga diingat dengan kontroversi yang mengingatkan kita bahwa evaluasi sejarah adalah tugas yang kompleks dan seringkali mengandung nuansa yang rumit.

Dalam menggali topik ini, penting bagi kita untuk menghormati keragaman pandangan yang mungkin muncul dan untuk selalu menggunakan sumber-sumber terpercaya dalam mengembangkan pemahaman kita tentang masa lalu dan dampaknya pada masa depan. Sebuah kepemimpinan seperti Soeharto adalah contoh bagaimana pengambilan keputusan di tingkat tertinggi dapat membentuk arah dan identitas sebuah negara, memberikan kita pelajaran yang berharga untuk refleksi dan pertimbangan di masa yang akan datang.

Bagaimana Kehidupan Awal Soeharto Mempengaruhi Kepemimpinannya di Kemudian Hari?

Dari latar belakang sederhana, Soeharto tumbuh dalam keluarga dengan nilai-nilai tradisional Jawa yang kuat, yang mungkin memengaruhi pendekatannya terhadap kepemimpinan dan kebijakan.
Apa Peran Soeharto dalam Pemberontakan PRRI/Permesta?

Sebelum menjadi presiden, Soeharto berperan dalam menumpas pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatra dan Sulawesi, yang mengukuhkan namanya sebagai perwira militer yang berpengaruh.
Bagaimana Dampak Krisis Moneter 1997-1998 pada Citra Soeharto?

Selain dampak ekonomi, krisis moneter juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Soeharto, karena munculnya ketidakpuasan atas tanggapannya terhadap situasi tersebut.
Apakah Alasan di Balik Pengunduran Diri Soeharto pada 1998?

Selain tekanan dari protes mahasiswa, kritik internal dalam pemerintahan dan dukungan yang semakin menipis di kalangan elit militer juga memainkan peran dalam pengunduran diri Soeharto.
Apa Saja Kebijakan Lingkungan yang Diterapkan Selama Pemerintahan Soeharto?

Meskipun lebih sering dikritik karena dampak negatifnya, Soeharto juga menerapkan sejumlah program pelestarian lingkungan dan konservasi alam.
Bagaimana Hubungan Soeharto dengan Negara-Negara Blok Timur?

Selain hubungan yang erat dengan Blok Barat, Soeharto juga menjalin kerja sama dengan negara-negara Blok Timur seperti Korea Utara dan Rumania.
Apakah Kontribusi Soeharto dalam Pembentukan Identitas Nasional Indonesia?

Selain menegaskan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, Soeharto juga mempromosikan kesenian dan budaya Indonesia sebagai elemen penting dalam membangun identitas nasional.
Bagaimana Peran Keluarga Soeharto dalam Dunia Politik dan Bisnis Pasca-Rezim?

Keluarga Soeharto masih memiliki keterlibatan dalam bisnis dan politik pasca-Orde Baru, dengan beberapa anggota yang menduduki posisi politik penting.
Apakah Ada Kebijakan Atau Program Sosial Yang Tidak Terlalu Dikenal yang Diterapkan oleh Soeharto?

Soeharto juga meluncurkan berbagai program sosial seperti pengembangan perumahan rakyat, pelatihan kerja, dan bantuan bagi keluarga miskin yang tidak selalu mendapat perhatian yang sama seperti program pembangunan ekonomi.
Bagaimana Cara Soeharto Menghadapi Konflik Aceh dan Papua Selama Masa Pemerintahannya?

Soeharto meluncurkan program otonomi khusus untuk Aceh dan Papua sebagai upaya untuk mengatasi konflik di wilayah tersebut, meskipun tanggapannya tidak selalu diterima oleh masyarakat setempat.

2023/07/31

Biografi Megawati Sukarnoputri

Megawati Sukarnoputri - Pemimpin Perempuan dan Tokoh Reformasi Indonesia





Megawati Sukarnoputri - Pemimpin Perempuan dan Tokoh Reformasi Indonesia
Megawati Sukarnoputri
, atau lebih dikenal sebagai Megawati atau Mega, adalah seorang politisi Indonesia yang telah berperan penting dalam sejarah politik Indonesia. Dia adalah putri dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan menjadi presiden Indonesia kelima dari tahun 2001 hingga 2004. Sebelumnya, Megawati menjabat sebagai wakil presiden kedelapan dari tahun 1999 hingga 2001. Megawati merupakan wanita pertama yang menjabat sebagai presiden Indonesia dan wanita keenam yang memimpin negara dengan mayoritas penduduk Muslim.


Kehidupan Awal dan Pendidikan:

Megawati lahir pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta dari ayahnya, Soekarno, yang merupakan proklamator kemerdekaan Indonesia, dan ibunya, Fatmawati. Dia tumbuh besar di Istana Merdeka dan mengalami perubahan besar dalam hidupnya ketika ayahnya digantikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1966. Megawati pernah belajar pertanian di Universitas Padjadjaran di Bandung sebelum memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi di Universitas Indonesia.


Karier Politik Awal:

Megawati memasuki dunia politik pada tahun 1987 ketika dia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) juga sebagai anggota DPR. Pada tahun 1993, Megawati terpilih sebagai ketua PDI dan kemudian mengalami perpecahan dalam partai. Pada tahun 1999, dia terpilih sebagai wakil presiden setelah Suharto mengundurkan diri.


Wakil Presiden (1999–2001):

Sebagai wakil presiden, Megawati memiliki peran yang penting dalam mengelola pemerintahan dan menangani masalah di Ambon. Namun, hubungannya dengan Presiden Abdurrahman Wahid menjadi saling bertentangan. Pada tahun 2001, Megawati menjadi presiden setelah MPR memberhentikan Gus Dur dari jabatannya.


Kepresidenan (2001-2004):

Kepresidenan Megawati ditandai dengan kurangnya arah ideologis yang jelas dan ketidakputusan dalam mengambil kebijakan penting. Namun, dia berhasil menstabilkan proses demokratisasi di Indonesia. Dia berperan penting dalam pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menciptakan sistem pemilu umum yang memungkinkan rakyat memilih langsung presiden dan wakil presiden.


Pemilihan Presiden Indonesia 2004:

Pada pemilihan presiden tahun 2004, Megawati mencalonkan diri kembali sebagai presiden, tetapi dia kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Meskipun kalah dalam pemilu, Megawati tetap aktif dalam politik dan memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).


Pasca-Kepresidenan (2004–sekarang):

Setelah kepresidenannya berakhir, Megawati tetap berperan sebagai pemimpin PDI-P dan terlibat dalam pemilu umum 2009 dan 2014. PDI-P berhasil memenangkan pemilu tahun 2014 dengan mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden.


Kehidupan Pribadi:

Megawati telah menikah tiga kali dan memiliki tiga anak. Dia adalah sosok yang karismatik dan memiliki dukungan dari banyak kalangan masyarakat Indonesia.
Pengaruh dan Warisan:
Megawati telah berperan penting dalam perjalanan politik Indonesia dan dianggap sebagai ikon perempuan dalam politik. Dia dikenal karena komitmennya terhadap reformasi dan perjuangannya dalam membangun demokrasi di Indonesia.


Kesimpulan:

Megawati Sukarnoputri adalah tokoh politik Indonesia yang berpengaruh dan berperan penting dalam sejarah politik Indonesia. Sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai presiden Indonesia, Megawati telah memberikan inspirasi bagi banyak perempuan untuk terlibat dalam politik. Meskipun masa kepresidenannya memiliki tantangan dan kritik, dia tetap dihormati sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia modern.

Biografi KH Abdurrahman Wahid (Gusdur)

Gus Dur
Gus Dur, atau KH Abdurrahman Wahid, adalah seorang tokoh agama, cendekiawan, dan politikus Indonesia yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur. KH Abdurrahman Wahid berasal dari keluarga yang berpengaruh di dunia Islam, sebagai anak dari keluarga kyai dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu ayahnya, KH Wahid Hasyim. Sejak muda, Gus Dur telah tumbuh dalam lingkungan pesantren, khususnya di pesantren Tebuireng yang terletak di Jombang. Selama hidupnya, Gus Dur sangat mengedepankan dialog antarumat beragama, dan kerukunan sosial. Selain itu, ia juga aktif dalam gerakan sosial dan berjuang untuk hak asasi manusia dan mengajarkan ajaran Islam yang moderat dan inklusif.

Pada tahun 1984, KH Abdurrahman atau Wahid Gus Dur terpilih sebagai ketua Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sebagai pemimpin NU, ia berperan penting dalam mengembangkan pesantren dan mendukung berbagai kegiatan sosial serta pendidikan di lingkungan NU.


Pernikahan

KH Abdurrahman Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah Wahid pada tahun1968. Sinta Nuriyah adalah seorang pendidik dan aktivis sosial. Mereka memiliki empat orang anak, yaitu:

  1. Alissa Qotrunnada Munawaroh
  2. Zannuba Arifah Chafsoh yang lebih dikenal dengan panggilan "Yenny Wahid" atau "Gus Yenny".
  3. Annita Hayatunnufus
  4. Inayah Wulandari

Sinta Nuriyah Wahid, sebagai istri Gus Dur, merupakan seorang figur yang mendukung peran dan kontribusi Gus Dur dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pendamping setia dan mitra dalam perjuangan Gus Dur untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.


Pendidikan

KH Abdurrahman Wahid, memiliki riwayat pendidikan yang mencerminkan perpaduan antara pendidikan agama tradisional dan pendidikan formal modern. Sejak kecil, ia tumbuh dan belajar di lingkungan pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, di mana ia mendalami ilmu agama Islam dari keluarga kyai yang berpengaruh. Di pesantren, Gus Dur memperoleh pemahaman mendalam tentang ajaran agama dan nilai-nilai keagamaan.

Berikut adalah riwayat pendidikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur):

  1. Pendidikan di Pesantren Tebuireng: Gus Dur tumbuh dalam lingkungan pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Sejak kecil, ia belajar di pesantren dan mendapatkan pendidikan agama Islam yang kuat dari para kyai dan ulama.
  2. Pendidikan Formal di Universitas Indonesia: Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI). Ia masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan dengan konsentrasi bahasa dan sastra Jawa. Pada tahun 1966, Gus Dur berhasil meraih gelar sarjana (S1) di bidang tersebut.
  3. Studi Pascasarjana di Baghdad, Irak: Setelah menyelesaikan studi sarjana di UI, Gus Dur melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of the Middle East di Baghdad, Irak. Di sana, ia memperdalam ilmu sosial dan ilmu politik. Namun, ada perbedaan pendapat mengenai gelar yang berhasil diraihnya, karena beberapa sumber menyebutkan bahwa Gus Dur tidak menyelesaikan studi pascasarjana dan kembali ke Indonesia sebelum memperoleh gelar.


Presiden RI ke 4

Pada tahun 1999, setelah era Orde Baru berakhir, KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia yang keempat dalam pemilihan presiden yang pertama kali dilakukan secara demokratis. Gus Dur menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1999 setelah mendapatkan dukungan dari berbagai partai politik, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Proses pemilihan presiden berlangsung melalui sidang istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), di mana Gus Dur berhasil meraih 373 suara dari 678 anggota MPR.


Kebijakan-Kebijakan

Selama masa kepresidenannya, KH Abdurrahman Wahid mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang berfokus pada ekonomi, sosial, dan politik. Ia berusaha untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, ia juga mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perlindungan hak asasi manusia dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses politik.

Berikut uraian kebijakan apa saja yang telah Gusdur terapkan

Kebijakan Politik dan Pemerintahan:

  • Keterbukaan Politik: Memperjuangkan kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan kebebasan berekspresi. Mengizinkan partai politik baru untuk berdiri, sehingga memperkaya pluralitas politik di Indonesia pasca-era Orde Baru.
  • Otonomi Daerah: Mendukung konsep otonomi daerah untuk memberikan lebih banyak wewenang kepada pemerintah daerah dalam mengurus urusan lokal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan pembangunan di tingkat lokal.
  • Penanganan Konflik Etnis dan Agama: Berusaha untuk menyelesaikan konflik etnis dan agama yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dengan mendorong dialog dan rekonsiliasi sebagai cara untuk mencapai perdamaian.

Kebijakan Ekonomi:

  • Krisis Ekonomi: Menghadapi berbagai tantangan ekonomi, termasuk krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengatasi krisis, dan mengurangi kesenjangan sosial.
  • Stabilitas Ekonomi: Menciptakan stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi yang tinggi melalui langkah-langkah fiskal dan moneter.
  • Program Reformasi Ekonomi: Mendukung program reformasi ekonomi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam sektor ekonomi. Mengurangi birokrasi dan korupsi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
  • Penarikan Subsidi: Melakukan penarikan subsidi di berbagai sektor, termasuk subsidi bahan bakar minyak, untuk mengurangi tekanan fiskal akibat krisis ekonomi.
  • Penggalangan Investasi Asing: Berusaha untuk menggalang investasi asing sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Kebijakan Sosial:

  • Hak Asasi Manusia: Aktif dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan mempromosikan perlindungan hak-hak minoritas. Memperkuat lembaga-lembaga yang berfokus pada penegakan hukum dan perlindungan hak-hak individu.
  • Multikulturalisme dan Toleransi Agama: Mengedepankan pendekatan multikulturalisme dan nilai-nilai toleransi agama. Aktif berdialog dengan berbagai kelompok agama untuk mencapai pemahaman dan kerukunan antarumat beragama.

Kebijakan Luar Negeri:

  • Diplomasi dan Hubungan Internasional: Aktif dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain dan berusaha memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Memperjuangkan isu-isu kemanusiaan dan perdamaian global sebagai bagian dari diplomasi luar negeri Indonesia.


Namun, masa kepresidenan KH Abdurrahman Wahid tidak berjalan mulus, dan pada tahun 2001, mandat presidennya dicabut melalui sidang istimewa MPR karena dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya dengan efektif. Hal ini dipicu oleh beberapa peristiwa kontroversial dan ketegangan politik dalam pemerintahannya.


Pasca Masa menjabat

Setelah tidak menjabat sebagai Presiden, KH Abdurrahman Wahid tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menjalankan peran sebagai tokoh pemersatu di tengah masyarakat Indonesia. Gus Dur tetap aktif dalam dunia politik dan sosial. Ia mendirikan The Wahid Institute, sebuah lembaga pemikiran dan advokasi yang berfokus pada nilai-nilai Islam moderat, hak asasi manusia, dan perdamaian.

Salah satu kebijakan yang akan selalu diingat oleh seluruh rakyat Indonesia adalah pendekatan inklusif dan toleran Gus Dur dalam menjalankan pemerintahannya. Ia menganjurkan perdamaian dan dialog dalam menyelesaikan konflik, serta berjuang untuk membangun kesadaran akan pentingnya toleransi agama dan multikulturalisme di Indonesia.


Wafat

Pada tanggal 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid meninggal dunia di Jakarta pada usia 69 tahun. Makamnya terletak di kompleks pemakaman keluarga di Dusun Ngadirejo, Desa Kemayoran, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tempat peristirahatan terakhirnya menjadi saksi sejarah bagi perjalanan hidup seorang tokoh besar yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia.

2016/02/28

Biografi BJ Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie | Prof. Dr.-Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng | BJ Habibie merupakan seorang insinyur yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden dan juga pernah menjadi presiden ke 3 di Republik Indonesia menggatikan Soeharto yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Habibie meninggalkan jabatan Presiden pada 20 Oktober 1999 dan digantikan Oleh Abdurrahman Wahid yang dikukuhkan oleh MPR terpilih melalui hasil pemilu. Habibie menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai Wakil Presiden dan selama 17 bulan sebagai presiden menempatkan Habibie sebagai Wakil Presiden sekaligus Presiden dengan masa jabatan tersingkat. Nama Habibie Diabadikan sebagai salah satu nama Universitas Negri di Gorontalo menggantikan nama UNG (Universitas Negri Gorontalo).

Keluarga Habibie

BJ Habibie terlahir dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Pupowardojo pada 25 Juni 1936 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Habibie adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Ayah Habibie berprofesi sebagai ahli pertanian. Ayah Habibie merupakan etnis Gorontalo dan  memeiliki darah keturunan Bugis. Ibu Habibie merupakan asli etnis Jawa. Nenek Habibie dari pihak Ibu adalah seorang dokter spesialis mata di Yogyakarta sedangkan kakek Habibie dari pihak Ibu adalah pemilik sekolah. 
biografi-singkat.blogspot.com
Bacharuddin Jusuf Habibie

Rudy begitu panggilan kecil Habibie pernah mengalami sakit yang cukup parah. Pada saat itu di Pare-Pare belum ada tenaga dokter maka kedua orang tua Habibie membawanya kepada seorang cenayang yakni Raja Bau Djondjo Kalimullah Karaengta Lembang Parangarung Barru untuk diobati. Menurut Raja Bau berdasarkan kepercayaan adat Bugis maka Habibie harus dijual karena memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayahnya, sebab dalam kepercayaan Bugis jika anak memiliki wajah yang cukup mirip dengan orang tuanya maka anak tersebut harus dijual, jika tidak salah satu dari mereka akan meninggal atau terpisah berjauhan. Maka berdasarkan kepercayaan tersebut orang tua Habibie menjual Habibie kepada Raja Bau secara simbolis dengan harga sebuah keris.

biografi-singkat.blogspot.com
Keluarga B.J. Habibie

Habibie menikahi seorang dokter medis, Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962 hingga 22 Mei 2010 pada saat menjemput Ainun. Dari Ainun, Habibie memiliki dua orang putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. adik BJ Habibie, Junus Effendi Habibie, adalah Duta Besar Indonesia untuk Inggris dan Belanda. Setelah kematian Aiunun, Habibie menerbitkan sebuah buku berjudul Habibie & Ainun yang menceritakan hubungannya dengan Hasri Ainun dari masa pacaran hingga kematian Ainun memisahkan mereka. Buku tersebut diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama dan dirilis pada 20 Desember 2012.

Riwayat Pendidikan & Karir Habibie di Eropa

BJ Habibie menghabiskan masa kecilnya di Pare-Pare bersama saudaranya hingga tahun 1947. Di tahun 1947 ayahanda Habibie mendapatkan promosi jabatan menjadi Kepala Pertanian untuk wilayah Indonesia Timur dan berkantor di Makassar. Maka pada tahun 1947 Habibie beserta keluarganya memutuskan untuk pindah dan menetap di Makassar. Pada 3 September 1950 ayah Habibie menghembuskan nafas terakhir saat menunaikan ibadah sholat Isya karena serangan jantung. Saat ayahnya meninggal Habibie baru duduk di kelas 2 Concordante HBS. Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunda Habibie memutuskan menjual rumah dan kendaraannya untuk tetap dapat menyekolahkan anak-anaknya dan memutuskan pindah ke Bandung. Habibie tetap melanjutkan pendidikannya di HBS, namun atas kemauannya sendiri, Habibie memutuskan pindah ke SMP Negeri 5. Selanjutnya Habibie melanjutkan pendidikannya ke Gouvernments Middlebare School Di Bandung. Di Gouvernments Middlebare School kemampuannya di bidang pelajaran nampak menonjol dibanding teman-teman lainnya terutam dibidang pelajaran eksak. Setelah menamatkan pendidikannya di Gouvernments Middlebare School, Habibie Melanjutkan Pendidikannya di SMA Kristen Dago, Bandung

Tahun 1954, BJ Habibie menamatkan pendidikannya di SMA dan melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB) dan memilih jurusan Teknik Mesin tahun 1954. Habibie tak menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia sebab mendapatkan beasiswa dari Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan memilih melanjutkan pendidikannya di Jerman. Mengingat pesan dari Bung Karno yang mengatakan bahwa kedirgantaraan bagi kemajuan Indonesia, Habibie memutuskan untuk memilih jurusan Teknik Penerbangan di  RWTH (Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule). Pada tahun 1960 Habibie mendapat gelar Diplom-Ingenieur. Habibie memilih menetap di Jerman dan memilih menjadi asisten penelitian Hans Ebner di Lehrstuhl und Institut für Leichtbau, RWTH Aachen hal ini dilakukan untuk membantu penelitian Habibie untuk memperoleh gelar doktornya.

Pada tahun 1962, BJ Habibie maninggalkan Jerman selama tiga bulan ke Indonesia karena mengalami gangguan kesehatan. Selama di Jakarta, Habibie berhubungan kembali dengan Hasri Ainun Besari. Habibie dan Ainun merupakan teman sejak kecil dan merupakan teman saat duduk di bangku SMP dan SMA di Bandung. Habibie dan Ainun lalu melanjutkan keseriusan hubungan mereka ke jenjang penikahan pada 12 Mei 1962 dan menghabiskan masa bulan madunya di Yogyakarta dan berakhir di Makassar. Tak lama setelah bulan madu Habibie kembali ke Jerman dan Ainun ikut serta mendampingi sang suami. Habibie dan Ainun memutuskan untuk menetap di Aachen, Jerman. Pada bulan Mei 1963 anak pertama mereka lahir dan diberi nama Ilham Akbar Habibie.

Kesulitan ekonomi saat itu menimpa Habibie dan memaksanya untuk mencari pekerjaan sambilan
dan mendapatkan pekerjaan paruh waktu di perusahaan otomotif Talbot. Di perusahaan tersebut Habibie bekerja sebagai penasihat. Habibie bekerja pada dua proyek yang menerima dana dari Deutsche Bundesbahn.

Tahun 1965, BJ Habibie memaparkan tesisnya dalam rekayasa kedirgantaraan dan menerima predikat summa cumlaude (sangat sempurna) untuk disertasinya, dan mendpatkan gelar Doktor der Ingenieurwissenschaften dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Di tahun yang sama, Habibie menerima tawaran dari Hans Ebner untuk melanjutkan penelitiannya terkait Thermoelastisitas dan bekerja sesuai dengan bidangnya, tapi ia menolak tawaran untuk bergabung dengan RWTH sebagai profesor. Teori Habibie yang terdapat dalam disertasinya tentang konstruksi ringan baik untuk kondisi supersonik maupun hipersonik juga menarik perhatian dari perusahaan seperti Boeing dan Airbus untuk mempekerjakan Habibie, namun kesemuanya ditolak oleh Habibie.

Habibie menerima pekerjaan di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, Hamburg. Di perusahaan tersebut, Habibie mengembangkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika yang dikenal sebagai Habibie Factor, Habibie Theorem, and Habibie Method. Selama bekerja untuk Messerschmit, Habibie berkontribusi pada pengembangan pesawat Airbus A-300B. Pada tahun 1974, Habibie dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan.

Karir Habibie di Indonesia

Pada tahun 1974, Soeharto merekrut Habibie untuk pulang ke Indonesia sebagai bagian dari pengembangan proyek industri dan pengembangan negara Indonesia. Awalnya Habibie menjabat sebagai asisten khusus CEO Pertamina yakni asisten Ibnu Sutowo. Pada tahun 1976 Habibie diangkat menjadi CEO sebuah perusahaan baru milik Negara yakni Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Pada tahun 1985 PT. Nurtanio berganti nama menjadi Industri Penerbangan Indonesia dan sekarang lebih dikenal sebagai Dirgantara Indonesia. Tahun 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Research dan Teknologi. Dengan menjabat sebagai Mentri Research dan Industri, Habibie mendapat keleluasaan dalam mengembangkan serta memainkan strategi penting di IPTN. Prestasi Habibie di IPTN terbukti cukup baik, di Tahun 1980, IPTN mengkhususkan diri dalam pengembangan helikopter dan pesawat berpenumpang kecil. Tahun 1991, Habibie mengawasi sepuluh perusahan milik Negara termasuk perusahaan perkapalan, kereta, baja, senjata, komunikasi, dan energi.

Habibie menjadi pilot, dibantu oleh A.B. Wolff yang merupakan mantan kepala staf Angkatan Darat Belanda yang berperan sebagai pelatih Habibie dalam menerbangkan pesawat. Pada Tahun 1995, Habibie menerbangkan sebuah pesawat komuter N-250 yang diberi nama Gatotkoco.

Habibie mengadopsi pendekatan "Mulai di Akhir dan Mengakhiri di Awal" dalam pengembangan Industri penerbangan. Dalam mengembangakan metode ini, unsur seperti peneletian dasar menjadi  fokus akhir, sementara manufaktur atau pengembangan dari pesawat menjadi fokus utama. Di masa kepemimpinan Habibie, IPTN menjadi produsen pesawat termasuk helikopter jenis Puma dan pesawat jenis CASA. Di masa kepemimpinan Habibie, IPTN juga memproduksi pesawat dengan kapasitas penumpang kecil, N-250 Gatotkaca, namun pesawat ini dinilai gagal secara komersil.

Anggota Partai Golongan Karya

Semasa Rezim Soeharto, seperti yang diharapkan oleh para eksekutif senior pemerintah, Habibie dijadikan anggota dari partai Golkar. Sejak tahun 1993 sampai 1999, Habibie menjabat sebagai koordinator harian untuk ketua dewan eksekutif.

Masa Wakil Presiden

Pada Januari 1998, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia untuk ketujuh kalinya. Setelah ditetapkan sebagai Presiden, Soeharto mengumumkan kriteriuntuk pemilihan calon Wakil Presiden. Soeharto tak menunjuk Habibie secara langsung, Soeharto menyarankan Wakil Presiden selanjutnya haruslah seseorang yang memiliki penguasaan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut secara tidak langsung mengacu kepada Habibie.

Pada saat itu Asia sedang mengalami krisis di bidang moneter, saran menjadikan Habibie sebagai Wakil Presiden tidak mendapat respon yang cukup baik, sehingga hal tersebut membuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Melemah. Meskipun demikian Habibie tetap terpilih sebagai Wakil Presiden pada Maret 1998.

Masa Presiden

Setelah pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, Wakil Presiden Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke tiga. Langkah awal yang dilakukan Habibie saat menjabat Presiden ialah segera membentuk kabinet. Tugas utama yang iemban oleh kabinet baru ialah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional (International Monetery Funding) atau IMF dan Komunitas negara-negara pendonor sebagai upaya memulihk perekonomian Indonesia yang carut-marut pasca mundurnya Soeharto.

Saat Menjabat sebagai Presiden, Habibie melakukan berbagai reformasi di bidang politik. Februari 1999, Habibie selaku Presiden meloloskan sistem Multipartai. Berdasarkan peraturan ini, partai politik tak lagi terbatas pada tiga partai seperti yang terjadi di masa Orde Baru pimpinan Soeharto. Selain itu, Partai politik juga tidak harus menjadikan Pancasila sebagai ideologi partai. Hal ini mengakibatkan banyak partai bermunculan, tercatat ada 48 partai mendaftar sebagai peserta Pemilu Legislatif 1999.

Bulan Mei 1999, Pemerintahan Habibie juga mengesahkan Undang-undang Otonomi Daerah. Undang-Undang Otonomi Daerah adalah langkah awal dalam desentralisasi pemerintahan Indonesia sehingga memungkinkan Provinsi untuk memiliki peran aktif secara langsung dalam mengatur Provinsi mereka. Selain itu pemerintahan Habibie juga mengesahkan Undang-Undang Anti Monopoli atau Undang-undang Persaingan Sehat.

Lembaga Pers juga memiliki kebebasan dalam menerbitkan informasi meskipun Lembaga Penerangan masih terus ada. Habibie juga membebaskan tahan politik, diantaranya Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, dan Xanana Gusmão.

Habibie di Tahun 1999 memimpin secara langsung pemilihan legislatif yang dilakukan umum. Pemilihan umum ini merupakan pemilihan umum pertama sejak tahun 1955. Pelaksanaan Pemilihan Umum ini diawasi secara langsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU merupakan lembaga independen yang dibentuk secara khusus mengawasi Pemilu yang tidak berisikan anggota mentri pemerintah sebagaimana yang biasa dilakukan selama masa Orde Baru.

Pengangkatan Habibie sebagai Presiden Indonesia menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Pihak yang Proberanggapan bahwa pengangkatan Habibie sebagai Presiden sudah sesuai dengan konstitusi yang termaktub pasal 8 Undang-undang Dasar 1945 di mana dalam pasal tersebut dinyatakan "bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya". Sedangkan pihak yang kontra berpendapat bahwa Pengangkatan Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia tidak Konstitusional, sebab dalam pasal 9 Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa "sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR".


Permasalahan Timor Timur

Pihak yang kontra terhadap pemerintahan Presiden Habibie beranggapan bahwa kesalahan terbedar Habibie selama menjabat sebagai preisden ialah refendum provinsi Timor Timur (Timor Leste). Tahun 1999 Habibie mengadakan Refendum bagi warga Tomor Timur dengan diberikan dua pilihan. Pilihan pertama ialah memilih memisahkan diri dari wilayah Negara Kesatuan Republik Iindonesia atau dengan kata lain memilih menjadi Negara Merdeka. Pilihan kedua ialah memilih tetap menjadi bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hasil dari refendum tersebut ialah Timor Timur memilih terpisah dari Negara Kesatuan republik Indonesia dan menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Tanggal 30 Agustus 1999 Timor Leste remsi berdiri sebagai Negara sendiri. Lepasnya Timor Timur dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat disesalkan oleh banyak pihak. Namun di pihak lain, lepasnya Timor Timur justru menyelamatkan nama Indonesia yang kerap dianggap sebagai negara Pelanggar Hak Asasi Manusia.

Akhir dari Masa Kepresidenan Habibie

Habibie, bagi sebagian orang, dipandang sebagai pimpinan masa trasnsisi, meskipun demikian nampaknya Habibie memiliki keinginan untuk terus menjadi Presiden. Saat mengumummkan pemilihan parlemen, Juni 1998, tak jelas apakah Habibie akan terus mencalonkan diri sebagai Presiden atau tidak. Habibie harus mengahadapi pihak oposisi yang cukup banyak baik dari kalangan pemerintahan maupun dari kalangan Partai Golkar yang ada dalam pemerintahan. Pada Juli 1998, Habibie berusaha memenangkan kendali atas Paratai Golkar dengan menunjuk Akbar Tandjung sebagai Pimpinan Partai. Terpilihnya Akbar Tandjung sebagai pimpinan Partai ialah sebuah kesuksesan melawan pihak lawan yang terdiri dari mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Menteri Pertahanan Edi Sudrajat, Siswono Yudhohusodo, dan Sarwono Kusmumaatmadja.

Namun di saat yang bersamaan, Habibie malah kehilangan dukungan dari Akbar Tandjung dan faksi Partai Golkar yang ada di parlemen, baik dari pihak garis keras maupun pihak reformis. Pada Maret 1999, Golkar mengajukan lima calon presiden. Habibie, Tandjung, Wiranto, Hamengkubuwono X, dan Ginandjar Kartasasmita. Mei 1999, setelah melakukan lobi yang cukup panjang, Partai Golkar mengumumkan bahwa Habibie akan menjadi kandidat Presiden, namun faksi besar di partai setia untuk mendukung Akbar Tandjung untuk maju sebagai calon Presiden dan menentang pencalonan Habibie.

Pada 1999 Sidang Umum MPR pada bulan Oktober, Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawaban yang merupakan laporan dari apa yang telah dicapai selama kepresidenannya. Setelah penyampaian pidato pertangungjawaban selesai, anggota MPR mulai memberikan suara untuk memutuskan apakah mereka akan menerima atau menolak sambutannya. Habibie berusaha untuk memenangkan dukungan dari militer dengan menawarkan wakil presiden kepada Jenderal Wiranto, tapi tawarannya ditolak. Faksi partai Golkar yang mendukung Akbar Tandjung terpecah dan memilih menentang Habibie, pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR dengan peolehan suara 355 berbanding 322. Dengan ditolaknya pidato pertanggungjawaban yang akan menjadi batu sandungannya dalam pencalonan kandidat Presiden, Habibie memutuskan untuk mundur dari bursa pencalonan Presiden.

Pasca Masa Kepresidenan

Setelah mangkat dari jabatannya sebagai Presiden, Habibie lebih banyak menghabiskan waktunya di Jerman. Namun pada masa pemerintahan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono, Habibie mengambil peran aktif sebagai penasihat Presiden untuk mengwal kelancaran proses demokrasi di Indonesia melalui organisasi yang didirikannya, yakni Habibie Centre. Habibie juga menjabat sebagai COE PT. Regio Aviasi Industri, sebuah perusahaan perancang pesawat yakni pesawat jenis R-80.

Di awal era reformasi banyak yang menilai negatif atau menganggap pemerintahan Habibie gagal. Namun seiring berjalan waktu, tak dapat dipungkiri bahwa keputusan-keputusan yang dibentuk pada masa Kepresidenan Habibie lah sehingga kita memiliki kebebasan berpendapat yang kita miliki sekarang.


Publikasi

Karya-Karya Habibie

biografi-singkat.blogspot.com
Habibie & Ainun

  • 1965 | B. J. Habibie | Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe | Disertasi di RWTH Aachen
  • 1968 | B. J. Habibie | Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH
  • 1969 | B. J. Habibie | Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH
  • 1970 | B. J. Habibie | Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH
  • 1971 | B. J. Habibie | Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen | Presentasi dalam Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
  • 1986 | B. J. Habibie [Penulis] ; B. Laschka [Editors] | Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia | Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute | diterbitkan Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt
  • 1990 | B. J. Habibie | Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd
  • 2006 | B. J. Habibie | Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (kisah peristiwa tahun 1998)
  • 2009 | B. J. Habibie | Habibie dan Ainun | diterbitkan The Habibie Center Mandiri (kisah Ainun Habibie)
  • Pesawat N-250 Gatot Kaca.

2015/11/22

Biografi Singkat Soekarno

Biografi Presiden Indonesia ke-1

Profil Umum Soekarno

Nama Lahir : Koesno Sosrodihardjo
Nama Lain : Soekarno, Bung Karno, Pak Karno, Sukarno, Ir. Soekarno, Presiden Soekarno
Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu :  Ida Ayu Nyoman Rai
Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda | Kamis, 6 Juni 1901
Zodiac : Gemini
Meninggal : Jakarta, Indonesia | 21 Juni 1970 (usia 69)
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Partai Politik : Partai Nasional Indonesia
Masa jabatan : 18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967 (21 tahun)
Profesi : Insinyur | Politikus Ida Ayu Nyoman Rai
http://biografi-singkat.blogspot.com/2015/11/biografi-soekarno-singkat.html
Ir. Soekarno

Istri-Istri Soekarno dan Anak-Anak Soekarno:

  • Oetari (1920–1923) Anak: -
  • Inggit Garnasih (1923–1943) Anak: -
  • Fatmawati (1943–1956) Anak: Guntur Soekarnoputra (1944)  | Megawati Soekarnoputri (1947) Rachmawati Soekarnoputri (1950) Sukmawati Soekarnoputri (1952) Guruh Soekarnoputra (1953)
  • Hartini (1952–1970) Anak: Taufan Soekarnoputra (1951-1981) Bayu Soekarnoputra (1958)
  • Kartini Manoppo (1959–1968) Anak: Totok Suryawan Soekarnoputra (1967)
  • Ratna Sari Dewi (1962–1970) Anak: Kartika Sari Dewi Soekarno (1967)
  • Haryati (1963–1966) Anak: Ayu Gembirowati
  • Yurike Sanger (1964–1968)
  • Heldy Djafar (1966–1969)

Riwayat Pendidikan Soekarno

  • Eerste Inlandse School, Mojokerto - Pendidikan setara sekolah dasar
  • Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto - Pendidikan setara sekolah dasar (1911-1915)
  • Hogere Burger School  (HBS), Surabaya (1915-1921)
  • 1920 - Technische Hoge School, Bandung (1921, berhenti kemudian mendaftar ulang 1922 dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1926)

Karya-Karya Soekarno

Karya Soekarno Sebagai Insinyur

http://biografi-singkat.blogspot.com/2015/11/biografi-soekarno-singkat.html
Gedung Conefo atau sekarang lebih dikenal sebagai Gedung MPR
  • Masjid Istiqlal (1951)
  • Monumen Nasional (1960)
  • Rancangan skema Tata Ruang Kota Palangkaraya yang diresmikan pada tahun 1957
  • Gedung Conefo
  • Gedung SarinahHotel Indonesia (1962)
  • Monumen Pembebasan Irian Barat
  • Wisma Nusantara
  • Tugu Selamat Datang
  • Patung Dirgantara
  • Tahun 1955 Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji dan Soekarno tergerak memberikan sumbangan gagasan arsitektural kepada pemerintah Arab Saudi untuk membuat bangunan tempat  melakukan sa’i dibuat menjadi berjalur dua yang terdapat dalam bangunan berlantai dua. Pemerintah Arab Saudi meresponnya dengan melakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjidil Haram di tahun 1966, termasuk membuat tempat melasksanakan sa'i menjadi lantai bertingkat  dan membuat jalur untuk melaksanakan tawaf menjadi dua jalur

Buku Karya Bung Karno

http://biografi-singkat.blogspot.com/2015/11/biografi-soekarno-singkat.html
Sampul Buku Karya Ir. Soekarno
  1. 1933 | Sukarno | Bung Karno Tentang Marhaen Dan Proletar
  2. 1933 | Sukarno | Mencapai Indonesia Merdeka
  3. 1951 | Sukarno | Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial
  4. 1951 | Sukarno | Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
  5. 1957 | Sukarno | Indonesia Merdeka
  6. 1959 | Sukarno | Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 1
  7. 1960 | Sukarno | Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 2
  8. 1960 | Sukarno | Amanat Penegasan Presiden Soekarno Didepan Sidang Istimewa Depernas Tanggal 9 Djanuari 1960
  9. 1962 | Sukarno | Kepada Bangsaku : Karya-karya Bung Karno Pada Tahun 1926-1930-1933-1947-1957
  10. 1962 | Sukarno | Pantja Sila Sebagai Dasar Negara
  11. 1964 | Sukarno | Tjamkan Pantja Sila ! : Pantja Sila Dasar Falsafah Negara
  12. 1964 | Sukarno | Re-So-Pim: Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional
  13. 1964 | Sukarno | Komando Presiden/Pemimpin Besar Revolusi: Bersiap-sedialah Menerima Tugas untuk Menjelamatkan R.I. dan untuk Mengganjang "Malaysia"!
  14. 1964 | Sukarno | Tahun "Vivere Pericoloso"
  15. 1965 | Sukarno, Cindy Adams | Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
  16. 1965 | Sukarno | Wedjangan Revolusi
  17. 1965 | Sukarno | Tjapailah Bintang-Bintang di Langit: Tahun Berdikari
  18. 1965 | Sukarno | Pantja Azimat Revolusi
  19. 1966 | Sukarno | Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah
  20. 1970 | Sukarno | Nationalism, Islam and Marxism
  21. 1984 | Sukarno | Pancasila sebagai Dasar Negara
  22. 1984 | Sukarno | Ilmu dan Perjuangan
  23. 1985 | Sukarno | Pancasila dan Perdamaian Dunia
  24. 1986 | Sukarno | Amanat Proklamasi Jilid IV: 1961-1966
  25. 1987 | Sukarno | Bung Karno Dan Pemuda: Kumpulan Pidato Bung Karno Di Hadapan Pemuda, Pelajar, Mahasiswa Dan Sarjana, 1952-1960
  26. 1988 | Sukarno | Warisilah api Sumpah Pemuda: kumpulan pidato Bung Karno di hadapan pemuda, 1961-1964
  27. 1988 | Sukarno | Kepada Bangsaku
  28. 1989 | Sukarno | Bung Karno dan ABRI: kumpulan pidato Bung Karno dihadapan ABRI, 1950-1966
  29. 1990 | Sukarno | Bung Karno dan Islam: kumpulan pidato tentang Islam, 1953-1966
  30. 1999 | Sukarno | Negara Nasional Dan Cita-Cita Islam: Kuliah Umum Presiden Soekarno
  31. 2000 | Sukarno | Bebaskan Irian Barat: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno Tentang Pembebasan Irian Barat, 17 Agustus 1961, 17 Agustus 1962
  32. 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Tata Dunia baru
  33. 2001 | Sukarno | Bung Karno Menggali Pancasila: Kumpulan Pidato
  34. 2001 | Sukarno | Empat Pidato Penting Bung Karno
  35. 2001 | Sukarno | Bung Karno: Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia - Kumpulan Pidato
  36. 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Ekonomi Berdikari: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
  37. 2001 | Sukarno | Mutiara Kata Bung Karno
  38. 2001 | Sukarno | Bung Karno, Gerakan Massa dan Mahasiswa: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
  39. 2001 | Sukarno | Bung Karno, Wacana Konstitusi dan Demokrasi: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
  40. 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Partai Politik: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
  41. 2006 | Sukarno | Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam

Film-Film terkait Soekarno

http://biografi-singkat.blogspot.com/2015/11/biografi-soekarno-singkat.html
Poster Film Soekarno
  • 1982 | The Year of Living Dangerously | Film Filipina | Soekarno diperankan oleh  actor Filipina, Mike Emperio
  • 1982 | Pengkhianatan G 30 S/PKI  | Soekarno diperankan oleh Sosiolog dan penulis Umar Kayam 
  • 1982 | Djakarta 66 | Sekuel kedua dari Pengkhianatan G 30 S/PKI | Soekarno diperankan oleh Sosiolog dan penulis Umar Kayam
  • 1997 | Blanco, The Colour of Love | versi terakhir serial televisi, Api Cinta Antonio Blanco | Aktor Indonesia Frans Tumbuan berperan sebagai  Sukarno
  • 2005 | Gie | Soultan Saladin, -Aktor Indonesia-  memerankan Sukarno
  • 2013 | 9 Reasons | Berkisah tentang Bung Karno dan Sembilan Istrinya| Sukarno diperankan oleh Aktor Indonesia, Tio Pakusadewo
  • 2013 | Soekarno: Indonesia Merdeka | Aktor Indonesia Ario Bayu memainkan peran sebagai Sukarno
  • 2013 | Bung di Ende | Aktor Indonesia Baim Wong memerankan | Kisah hidup Soekarno selama diasingkan di Ende, Flores
  • 2015 | Guru Bangsa: Tjokroaminoto | Dave Mahenra mengambarkan Sukarno | Film terkait biografi Oemar Said Tjokroaminoto, nasionalis yang juga selaku  mentor para pemimpin perjuangan (termasuk Sukarno) menuju kemerdekaan Republik Indonesia.

2014/11/24

Biografi John F Kennedy JFK

Biografi John F. Kennedy | Nama Lengkap John Fitzgerald Kennedy. Nama Presiden ini sering disingkat JFK (Jack) "John F. Kennedy". Lahir pada tanggal 29 Mei 1917 di 83 Beals Street(Jalan Beals 83), Brookline, Massachusetts, Amerika Serikat. John F Kennedy merupakan Presiden Amerika Serikat XXXV (ke-35). John F. Kennedy Menjabat Presiden Amerika Serikat sejak Januari 1961 hingga bulan November 1963 (Dibunuh).
John F. Kennedy merupakan anak dari pasangan Joseph Patrick Kennedy.Sr. (Politikus dan Pebisnis) dan Rose Elizabeth Fitzgerald (filantropis). John F. Kennedy merupakan cucu dari Patrick Joseph Kennedy dan Mary Augusta Hickey serta John Francis Fitzgerald (Walikota Boston) dan Mary Josephine Hannon.
John F. Kennedy merupakan anak pertama dari 3 bersaudara yaitu Edward Moore Kennedy dan Robert Francis Kennedy. Kedua saudaranya menjadi senator. 
Riwayat Pendidikan John F. Kennedy 
John F. Kennedy sekolah selama sepuluh tahun di Edward Devotion School, Noble dan Greenough Lower School dan Dexter hingga kelas 4. Dikarenakan pekerjaan kedua orang tuanya, John F.Kennedy harus berpindah pindah tempat sekolah selama beberapa kali. JFK pernah bersekolah di Riverdale, di Bronxville, di Canterbury School (kelas 8), The Choate School (kelas 9-12)
, Kuliah di Harvard College pada September 1936 dan lulus pada tahun 1940 pada bidang urusan internasional dengan gelar Bachelor of Science cum claude. Prestasi John F. Kennedy selama sekolah khususnya kuliah cukup gemilang khususnya di bidang olahraga. Pernah masuk dalam Dean;s list pada masa junior perkuliahan di Harvard.

Biografi John F. Kennedy | Dinas Militer (1941-1945)
Setelah mengalami penyakit punggung, JFK didiskualifikasi dari Angkatan darat sehingga harus pindah ke angkatan laut Amerika serikat menggunakan bantuan Direktur Office of Naval intelligence, mantan atase AL. JFK pernah bertugas sebagai awak di kuadron Kapal Motor torpedo di Melville, Rhode Island. Kemudian ditugaskan di Panama dan Teater Pasifik sebagai Letnan dan akhirnya menjadi komandan Kapal Patroli Torpedo (PT).Pada bulan Oktober 1943, John F. Kennedy pernah memimpin Kapal PT-59 dalam penyelamatan marinir. Kejadian itu berlangsung pada bulan November 1943 di Pulau Choiseul.
John F. Kennedy sebelum pembebasan tugasnya mendapatkan penghargaan selama PD II berupa American Defence Service Medal, Purple Heart, American Campaign Medal, World War II Victory medal (Medali Kemenangan Perang Dunia Ke-2), Asiatic-Pacific Campaign Medal (tiga bintang jasa perunggu). 

Biografi Soekarno

Biografi Soekarno | dalam ejaan yang disempurnakan Sukarno | Soekarno adalah Presiden Pertama NKRI yang lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur dan wafat pada 21 Juni 1970. Soekarno menjabat sebagai Presiden Indonesia dari periode 1945-1966.


Masa Kecil dan Remaja Soekarno

Soekarno merupakan anak kedua dari pasangan Raden Soekami Sosrodiharjo  dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ibunda Soekarno adalah penganut kepercayaan hindu yang merupakan keturunan bangsawan Bali. Sedangkan Ayahandanya beragama Islam. Soekarno lahir dengan nama Koesno Sosrodiharjo. Semasa kecil Soekarno tinggal bersama kakek dari pihak ayahnya, Raden Hardjokromo di daerah Tulung Agung, Jawa Timur.

Biografi Soekarno | Riwayat Pendidikan Soekarno

Soekarno mulai bersekolah pertama kali di Tulung Agung lalu pindah ke Mojokerto bersamaan dengan dipindahtugaskannya kedua orangtuanya. Di Mojokerto Soekarno mengeyam pendidikan di Eerste Inlandse School, sekolah tempat ayahnya mengajar. Agar mudah diterima di HBS (Hogere Burger School), pendidikan Soekarno pindah ke ELS (Europeesche Lagere School) pada tahun 1911. Di tahun 1915 Soekarno menyelesaikan pendidikannya di ELS dan melanjutkan pendidikan ke HBS sesuai yang direncanakan berkat bantuan kawan ayahnya H.O.S. Tjokroaminoto. Bahkan Aminoto meberikan pondokon di kediamannnya. Soekarno menyelesaikan pendidikan di HBS pada Juli 1921. Soekarno Lalu melanjutkan pendidikan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil di tahun 1921. Di bandung Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi. Soekarno hanya berkuliah selama dua bulan namun di tahun 1922 mendaftar kembali dan menyelesaikan pendidikanya pada 1926. Soekarno lulusujian insinyur tangal 25 Mei 1926 dan di wisuda pada tanggal 3 Juni 1926 bersamaan dengan Dies Natalis ke-6 TH bandung bersama 16 insinyur lainnya. Diantara 16 insinyur yang diwisuda hanya terdapat empat orang wisudawan pribumi, tiga dari dari Jawa termasuk Soekarno dan satu orang wisudawan dari Minahasa.
Ir. Soekarno
Ir. Soekarno

Kiprah Politik Soekarno

Masa Pergerakan Nasional

Soekarno mulai dikenal saat menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya di tahun 1915. Jong Java yang bersifat kejawaan (Jawa-sentris) yang hanya berfokus padaa kebudayaan saja adalah tantangan tersendiri.

Di Tahun 1926, Soekarno mendirikan  Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang kelak menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang diresmikan pada tahun 1927. Tahun 1929 tepatnya tanggal 29 Desember, Soekarno ditangkap Belanda sebagai akibat dari aktivitasnya di PNI. Ia di tangkap di Jogja dan esoknya di pindahkan ke Bandung untuk dijebloskan ke penjara Banceuy. Pada tahun 1930 dipindahkan ke Sukamiskin. Di pengadilan Landraad Bandung Soekarno membacakan pleodinya yang terkenal Indonesia Menggugat pada 18 Desember 1930. Akhirnya Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1930.

Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia) yang merupakan pecahan PNI. Soekarno ditangkap kembali pada Agustus 1933 lalu di asingkan ke Flores. Pengasingan Soekarno kali ini hampir terlupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Tahun 1938-1942 Soekarno diasingkan ke Bengkulu dan baru dibebaskan pada masa penjajahan Jepang.

Masa Penjajahan Jepang

Aktivis pergerakan Indonesia kurang dilirik pada masa awal pendudukan Jepang. Pemerintah jepang akhirnya menyadari bahwa mereka kurang menarik perhatian masyarakat Indonesia. Pemerintah Jepang kemudian mulai melirik dan memanfaatkan tokoh-tokoh organisasi dan lembaga-lembaga yang ada di Indonesia untuk manarik hati masyarakat pribumi. Keaktifan para aktivis seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan lain-lain begitu aktif. Mereka bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang pada akhirnya untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Soekarno terlibat aktif dalam penyusunan Pancasila, UUD 1945, dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia serta perumusan teks Proklamasi.

Tahun 1943, Perdana Mentri Jepang mengundang Soekarno, Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang bertemu langsung dengan Kaisar Hirohito. Kaisar memberikan gelar Ratna Suci (Bintang Kekaisaran) yang berarti bahwa mereka merupakan keluarga Kaisar Jepang. Belanda menuduh keterlibatan Soekarno dalam organisasi yang dibentuk Jepang sebagai bentuk kerjasama dengan Jepang.

Masa Perang Revolusi

Setelah sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang atau dikenal sebagai Panitia Sembilan (8 orang secara resmi) menghasilkan Piagam Jakarta dan membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Soekarno dan Hatta kemudian mendirikan Negara Indonesia yang berdasar pada UUD 1945 dan Pancasila.

Peristia Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945 setelah pertemuan Soekarno-Hatta bersama Marsekal Terauchi di dallat, Vietnam. Peritiwa ini dimotori oleh para pemuda aktivis kemerdekaan. Oleh para aktivis, Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok. Para pemuda mendesak agar Proklamasi kemerdekaan Indonesia disegerakan mengingat terjadinya kekosongan penguasa. Kekosongan kekuasaan terjadi karena Jepang telah menyerah kepada sekutu dan sekutu belum tiba di Indonesia. Maka dipilihlah tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari Proklamasi Kemerdekaan.

http://biografi-singkat.blogspot.com/2014/11/biografi-sukarno.html
Pembacaan Teks Proklamasi Oleh Bung Karno, 17 Agustus 1945

18 Agustus 1945 Seokarno dilantik oleh PPKI sebagai Presiden pertama Indonesia dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia yang di kukuhkan oleh KNIP pada 29 Agustus 1945. Sebulan kemudian, yakni pada 19 September 1945 terjadi peristiwa di Lapangan Ikada. Rakyat berencana akan mengadakan bentrok dengan pasukan Jepang yang bersenjata lengkap. Soekarno yang memiliki kewibawaan dan kharismatik saat berpidato mampu menenangkan 200.000 rakyat Jakarta hingga peristiwa ini berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah.

Letjen. Sir Philip Christison yang mewakili Sekutu (AFNEI) mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Hasil pertemuan ini ialah pengakuan kedaulatan Indonesia secara de facto. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi NICA dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby meledaklah peristiwa 10 November 1945. Berbagai provokasi yang dilancarkan mangakibatkan Soekarno mengambil keputusan memindahkan Ibukota Republik Indonesia ke Yoyakarta yang diikuti oleh Wakil Presiden dan perangkat pejabat tinggi negara lainnya.

Menurut UUD 1945 kedudukan Presiden Soekarno adalah kepala pemerintahan dan dan kepala negara (presidensil/single executive). Namun karena Republik Indonesia ingin lebih dianggap sebagai negara yang demokratis maka berdasarkan maklumat wakil presiden X dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik, Presiden Soekarno hanya menjadi Kepala Negara dan kedudukan Perdana Mentri/Kepala Pemerintahan dipercayakan kepada Sutan Syahrir.

Presiden Soekarno tetap memegang peranan paling penting meski sistem pemerintahan berubah, terutama dalam mengatasi Peristiwa Madiun 1948 serta pada peristiwa Agresi Militer Belanda II yang berujung pada penahanan Soekarno-Hatta serta beberapa pejabat tinggi negara lainnya oleh Belanda. Akibat penahanan ini maka dibentuklah PDRI ( Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang diketuai oleh Sjafruddin Prawiranegara, namun dunia internasional tetap menganggap Soekarno-Hatta sebagai pemimpin negara Indonesia yang sesungguhnya.

Masa Kemerdekaan

Setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda, Soekarno diangkat sebagai Presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) dan Hatta sebagai perdana mentri RIS. Sedangkan jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan ke Mr Assaat. Atas desakan seluruh rakyat, pada pada HUT RI ke 5 di tahun 1950 RIS dibubarkan dan kembali menjadi Republik Indonesia. Mr Assaat kembali menyerahkan jabatan Presiden Republik Indonesia ke Presiden Soekarno.

Soekarno memberi banyak gagasan di kancah Internasional. Soekarno yang prihatin atas nasib berbagai bangsa di Asia dan Afrika yang belum merdeka, yang belum mampu menentukan ke mana arah nasib mereka sendiri. Soekarno mengambil inisiatif mengadakan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung yang menghasilkan Dasasila Bandung. Poin penting Konferensi Asia-Afrika yang dihasilkan ialah dibentuknya Gerakan Non Blok.

Masa Keterpurukan

Situasi politik Indonesia menjadi tak berarah setelah pembunhan sadis terhadap enam orang Jendral dalam peristiwa Gerakan 30 September atau G30S pada tahun 1965. Dalang peristiwa G30S sampai hari ini masih kontroversi. Namun masyrakat Indonesia waktu itu yakin bahwa dalang peristiwa tersebut ialah PKI. Massa KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) menggelar aksi demonstrasi yang menyuarakan tiga poin utama (Tritura / Tri Tuntutan Rakyat) yang salah satu poinnya ialah membubarkan PKI. Soekarno menolak karena ini bertentangan dengan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sikapnya yang menolak pembubaran PKI melemahkan posisinya dalam perpolitikan.

Pada 11 Maret 1966 Soekarno menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret. Surat tersebut berisi perintah kepada Letnan Jendral Soeharto untuk mengamankan pemerintahan dan menjaga keselamatan pribadi presiden. Surat tersebut digunakan Soeharto sebagai dasar pengangkatan dirinya sebagai Panglima Angkatan Darat dan untuk membubarkan PKI serta menyatakannya sebagai organisasi terlarang. Kesuksesan Soeharto dalam menumpas PKI membuat MPRS mengeluarkan dua ketetapan, TAP No. IX/1966 yang bersisi pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang menjamin Soeharto selaku pemegang Supersemar agar setiap saat bersedia menjadi presiden apabila presiden berhalangan.

Di sidang MPRS ke-IV, Soekarno membawakan pidato pertanggungjawaban terkait sikapnya terhadap G30S. Pidato yang dibacakan tanggal 22 Juni 1966 tersebut berjudul Nawakarsa. Pidato presiden Soekarno dianggap tidak lengkap, maka MPRS meminta Soekarno untuk melengkapinya. pidato Pelengkap Nawakarsa  dibacakan pada 10 Januari 1967 namun ditolak oleh MPRS pada 16 Februari 1967.

Tertanggal 20 Februari 1967, Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto secara de facto menjabat sebagai kepala pemerintahan Indonesia. MPRS pun segera mengadakan sidang istimewa yang berujung pada pencabutan kekuasaan Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia sampai pemilihan umum selanjutnya.

Sakit hingga Meninggalnya Soekarno

http://biografi-singkat.blogspot.com/2014/11/biografi-sukarno.html
Foto Terakhir Soekarno Sewaktu Hidup
Kesehatan Soekarno berangsur-angsur menurun sejak Agustus 1965. Soekarno dinyatakan mengidap gangguan ginjal. Soekarno pernah menjalani perawatan di Wina, Austria pada tahun 1961 dan 1964. Ginjal kiri Soekarno, oleh Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar diangkat, namun presiden Soekarno bersikukuh menolak dan memilih perawatan obat tradisional. Tim dokter kepresidenan yang bertugas rutin memeriksa kesehatan Soekarno ialah Dokter Mahar Mardjono. Soekarno mampu berjuang selama lima tahun melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sebelum akhirnya meninggal di hari minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta dalam kondisi berstatus sebagai tahanan politik. Jenazah Soekarno lalu dipindahkan ke Wisma milik Ratna Sari Dewi yakni di wisma Yasso. Komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati dikeluarkan tak lama setelah Soekarno wafat.

Isi Komunike medis tersebut berisikan:

  • Sabtu, 20 Juni 1970, pukul 20.30, kondisi kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan tingkat kesadaran semakin menurun.
  • Minggu, 21 Juni 1970, pukul 03.50, Ir. Soekarno dalam kondisi tak sadarkan diri dan pada pukul 07.00 Ir. Soekarno dinyatakan meninggal dunia.
  • Tim dokter terus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat menghembuskan nafas terakhir.
http://biografi-singkat.blogspot.com/2015/11/biografi-soekarno-singkat.html
Upacara Pemakaman Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno

Soekarno pernah berwasiat untuk dimakamkan di  Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto berdasarkan Keppres RI No. 44 tahun 1970 memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno. Senin, 22 Juni 1970 jenazah Soekarno di kirim ke Blitar. Jenazah Soekarno dimakamkan tepat di samping makam ibundanya. Upacara pemakaman Soekarno dipimpin langsung oleh oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. Kepergian Soekarno ditetapkan sebagai masa berbung nasional selama satu minggu.