2023/08/11
Biografi Soeharto
2023/07/31
Biografi Megawati Sukarnoputri
Megawati Sukarnoputri - Pemimpin Perempuan dan Tokoh Reformasi Indonesia
Kehidupan Awal dan Pendidikan:
Megawati lahir pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta dari ayahnya, Soekarno, yang merupakan proklamator kemerdekaan Indonesia, dan ibunya, Fatmawati. Dia tumbuh besar di Istana Merdeka dan mengalami perubahan besar dalam hidupnya ketika ayahnya digantikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1966. Megawati pernah belajar pertanian di Universitas Padjadjaran di Bandung sebelum memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi di Universitas Indonesia.Karier Politik Awal:
Megawati memasuki dunia politik pada tahun 1987 ketika dia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) juga sebagai anggota DPR. Pada tahun 1993, Megawati terpilih sebagai ketua PDI dan kemudian mengalami perpecahan dalam partai. Pada tahun 1999, dia terpilih sebagai wakil presiden setelah Suharto mengundurkan diri.Wakil Presiden (1999–2001):
Sebagai wakil presiden, Megawati memiliki peran yang penting dalam mengelola pemerintahan dan menangani masalah di Ambon. Namun, hubungannya dengan Presiden Abdurrahman Wahid menjadi saling bertentangan. Pada tahun 2001, Megawati menjadi presiden setelah MPR memberhentikan Gus Dur dari jabatannya.Kepresidenan (2001-2004):
Kepresidenan Megawati ditandai dengan kurangnya arah ideologis yang jelas dan ketidakputusan dalam mengambil kebijakan penting. Namun, dia berhasil menstabilkan proses demokratisasi di Indonesia. Dia berperan penting dalam pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menciptakan sistem pemilu umum yang memungkinkan rakyat memilih langsung presiden dan wakil presiden.Pemilihan Presiden Indonesia 2004:
Pada pemilihan presiden tahun 2004, Megawati mencalonkan diri kembali sebagai presiden, tetapi dia kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Meskipun kalah dalam pemilu, Megawati tetap aktif dalam politik dan memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).Pasca-Kepresidenan (2004–sekarang):
Setelah kepresidenannya berakhir, Megawati tetap berperan sebagai pemimpin PDI-P dan terlibat dalam pemilu umum 2009 dan 2014. PDI-P berhasil memenangkan pemilu tahun 2014 dengan mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden.Kehidupan Pribadi:
Megawati telah menikah tiga kali dan memiliki tiga anak. Dia adalah sosok yang karismatik dan memiliki dukungan dari banyak kalangan masyarakat Indonesia.Pengaruh dan Warisan:
Megawati telah berperan penting dalam perjalanan politik Indonesia dan dianggap sebagai ikon perempuan dalam politik. Dia dikenal karena komitmennya terhadap reformasi dan perjuangannya dalam membangun demokrasi di Indonesia.
Kesimpulan:
Megawati Sukarnoputri adalah tokoh politik Indonesia yang berpengaruh dan berperan penting dalam sejarah politik Indonesia. Sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai presiden Indonesia, Megawati telah memberikan inspirasi bagi banyak perempuan untuk terlibat dalam politik. Meskipun masa kepresidenannya memiliki tantangan dan kritik, dia tetap dihormati sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia modern.Biografi KH Abdurrahman Wahid (Gusdur)
Gus Dur, atau KH Abdurrahman Wahid, adalah seorang tokoh agama, cendekiawan, dan politikus Indonesia yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur. KH Abdurrahman Wahid berasal dari keluarga yang berpengaruh di dunia Islam, sebagai anak dari keluarga kyai dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu ayahnya, KH Wahid Hasyim. Sejak muda, Gus Dur telah tumbuh dalam lingkungan pesantren, khususnya di pesantren Tebuireng yang terletak di Jombang. Selama hidupnya, Gus Dur sangat mengedepankan dialog antarumat beragama, dan kerukunan sosial. Selain itu, ia juga aktif dalam gerakan sosial dan berjuang untuk hak asasi manusia dan mengajarkan ajaran Islam yang moderat dan inklusif.
Pada tahun 1984, KH Abdurrahman atau Wahid Gus Dur terpilih sebagai ketua Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sebagai pemimpin NU, ia berperan penting dalam mengembangkan pesantren dan mendukung berbagai kegiatan sosial serta pendidikan di lingkungan NU.
Pernikahan
KH Abdurrahman Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah Wahid pada tahun1968. Sinta Nuriyah adalah seorang pendidik dan aktivis sosial. Mereka memiliki empat orang anak, yaitu:
- Alissa Qotrunnada Munawaroh
- Zannuba Arifah Chafsoh yang lebih dikenal dengan panggilan "Yenny Wahid" atau "Gus Yenny".
- Annita Hayatunnufus
- Inayah Wulandari
Sinta Nuriyah Wahid, sebagai istri Gus Dur, merupakan seorang figur yang mendukung peran dan kontribusi Gus Dur dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pendamping setia dan mitra dalam perjuangan Gus Dur untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.
Pendidikan
KH Abdurrahman Wahid, memiliki riwayat pendidikan yang mencerminkan perpaduan antara pendidikan agama tradisional dan pendidikan formal modern. Sejak kecil, ia tumbuh dan belajar di lingkungan pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, di mana ia mendalami ilmu agama Islam dari keluarga kyai yang berpengaruh. Di pesantren, Gus Dur memperoleh pemahaman mendalam tentang ajaran agama dan nilai-nilai keagamaan.
Berikut adalah riwayat pendidikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur):
- Pendidikan di Pesantren Tebuireng: Gus Dur tumbuh dalam lingkungan pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Sejak kecil, ia belajar di pesantren dan mendapatkan pendidikan agama Islam yang kuat dari para kyai dan ulama.
- Pendidikan Formal di Universitas Indonesia: Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI). Ia masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan dengan konsentrasi bahasa dan sastra Jawa. Pada tahun 1966, Gus Dur berhasil meraih gelar sarjana (S1) di bidang tersebut.
- Studi Pascasarjana di Baghdad, Irak: Setelah menyelesaikan studi sarjana di UI, Gus Dur melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of the Middle East di Baghdad, Irak. Di sana, ia memperdalam ilmu sosial dan ilmu politik. Namun, ada perbedaan pendapat mengenai gelar yang berhasil diraihnya, karena beberapa sumber menyebutkan bahwa Gus Dur tidak menyelesaikan studi pascasarjana dan kembali ke Indonesia sebelum memperoleh gelar.
Presiden RI ke 4
Pada tahun 1999, setelah era Orde Baru berakhir, KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia yang keempat dalam pemilihan presiden yang pertama kali dilakukan secara demokratis. Gus Dur menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1999 setelah mendapatkan dukungan dari berbagai partai politik, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Proses pemilihan presiden berlangsung melalui sidang istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), di mana Gus Dur berhasil meraih 373 suara dari 678 anggota MPR.
Kebijakan-Kebijakan
Selama masa kepresidenannya, KH Abdurrahman Wahid mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang berfokus pada ekonomi, sosial, dan politik. Ia berusaha untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, ia juga mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perlindungan hak asasi manusia dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses politik.
Berikut uraian kebijakan apa saja yang telah Gusdur terapkan
Kebijakan Politik dan Pemerintahan:
- Keterbukaan Politik: Memperjuangkan kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan kebebasan berekspresi. Mengizinkan partai politik baru untuk berdiri, sehingga memperkaya pluralitas politik di Indonesia pasca-era Orde Baru.
- Otonomi Daerah: Mendukung konsep otonomi daerah untuk memberikan lebih banyak wewenang kepada pemerintah daerah dalam mengurus urusan lokal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan pembangunan di tingkat lokal.
- Penanganan Konflik Etnis dan Agama: Berusaha untuk menyelesaikan konflik etnis dan agama yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dengan mendorong dialog dan rekonsiliasi sebagai cara untuk mencapai perdamaian.
Kebijakan Ekonomi:
- Krisis Ekonomi: Menghadapi berbagai tantangan ekonomi, termasuk krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengatasi krisis, dan mengurangi kesenjangan sosial.
- Stabilitas Ekonomi: Menciptakan stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi yang tinggi melalui langkah-langkah fiskal dan moneter.
- Program Reformasi Ekonomi: Mendukung program reformasi ekonomi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam sektor ekonomi. Mengurangi birokrasi dan korupsi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
- Penarikan Subsidi: Melakukan penarikan subsidi di berbagai sektor, termasuk subsidi bahan bakar minyak, untuk mengurangi tekanan fiskal akibat krisis ekonomi.
- Penggalangan Investasi Asing: Berusaha untuk menggalang investasi asing sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.
Kebijakan Sosial:
- Hak Asasi Manusia: Aktif dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan mempromosikan perlindungan hak-hak minoritas. Memperkuat lembaga-lembaga yang berfokus pada penegakan hukum dan perlindungan hak-hak individu.
- Multikulturalisme dan Toleransi Agama: Mengedepankan pendekatan multikulturalisme dan nilai-nilai toleransi agama. Aktif berdialog dengan berbagai kelompok agama untuk mencapai pemahaman dan kerukunan antarumat beragama.
Kebijakan Luar Negeri:
- Diplomasi dan Hubungan Internasional: Aktif dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain dan berusaha memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Memperjuangkan isu-isu kemanusiaan dan perdamaian global sebagai bagian dari diplomasi luar negeri Indonesia.
Namun, masa kepresidenan KH Abdurrahman Wahid tidak berjalan mulus, dan pada tahun 2001, mandat presidennya dicabut melalui sidang istimewa MPR karena dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya dengan efektif. Hal ini dipicu oleh beberapa peristiwa kontroversial dan ketegangan politik dalam pemerintahannya.
Pasca Masa menjabat
Setelah tidak menjabat sebagai Presiden, KH Abdurrahman Wahid tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menjalankan peran sebagai tokoh pemersatu di tengah masyarakat Indonesia. Gus Dur tetap aktif dalam dunia politik dan sosial. Ia mendirikan The Wahid Institute, sebuah lembaga pemikiran dan advokasi yang berfokus pada nilai-nilai Islam moderat, hak asasi manusia, dan perdamaian.
Salah satu kebijakan yang akan selalu diingat oleh seluruh rakyat Indonesia adalah pendekatan inklusif dan toleran Gus Dur dalam menjalankan pemerintahannya. Ia menganjurkan perdamaian dan dialog dalam menyelesaikan konflik, serta berjuang untuk membangun kesadaran akan pentingnya toleransi agama dan multikulturalisme di Indonesia.
Wafat
Pada tanggal 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid meninggal dunia di Jakarta pada usia 69 tahun. Makamnya terletak di kompleks pemakaman keluarga di Dusun Ngadirejo, Desa Kemayoran, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tempat peristirahatan terakhirnya menjadi saksi sejarah bagi perjalanan hidup seorang tokoh besar yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia.
2016/02/28
Biografi BJ Habibie
Keluarga Habibie
![]() |
Bacharuddin Jusuf Habibie |
![]() |
Keluarga B.J. Habibie |
Habibie menikahi seorang dokter medis, Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962 hingga 22 Mei 2010 pada saat menjemput Ainun. Dari Ainun, Habibie memiliki dua orang putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. adik BJ Habibie, Junus Effendi Habibie, adalah Duta Besar Indonesia untuk Inggris dan Belanda. Setelah kematian Aiunun, Habibie menerbitkan sebuah buku berjudul Habibie & Ainun yang menceritakan hubungannya dengan Hasri Ainun dari masa pacaran hingga kematian Ainun memisahkan mereka. Buku tersebut diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama dan dirilis pada 20 Desember 2012.
Riwayat Pendidikan & Karir Habibie di Eropa
Pada tahun 1962, BJ Habibie maninggalkan Jerman selama tiga bulan ke Indonesia karena mengalami gangguan kesehatan. Selama di Jakarta, Habibie berhubungan kembali dengan Hasri Ainun Besari. Habibie dan Ainun merupakan teman sejak kecil dan merupakan teman saat duduk di bangku SMP dan SMA di Bandung. Habibie dan Ainun lalu melanjutkan keseriusan hubungan mereka ke jenjang penikahan pada 12 Mei 1962 dan menghabiskan masa bulan madunya di Yogyakarta dan berakhir di Makassar. Tak lama setelah bulan madu Habibie kembali ke Jerman dan Ainun ikut serta mendampingi sang suami. Habibie dan Ainun memutuskan untuk menetap di Aachen, Jerman. Pada bulan Mei 1963 anak pertama mereka lahir dan diberi nama Ilham Akbar Habibie.
Tahun 1965, BJ Habibie memaparkan tesisnya dalam rekayasa kedirgantaraan dan menerima predikat summa cumlaude (sangat sempurna) untuk disertasinya, dan mendpatkan gelar Doktor der Ingenieurwissenschaften dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Di tahun yang sama, Habibie menerima tawaran dari Hans Ebner untuk melanjutkan penelitiannya terkait Thermoelastisitas dan bekerja sesuai dengan bidangnya, tapi ia menolak tawaran untuk bergabung dengan RWTH sebagai profesor. Teori Habibie yang terdapat dalam disertasinya tentang konstruksi ringan baik untuk kondisi supersonik maupun hipersonik juga menarik perhatian dari perusahaan seperti Boeing dan Airbus untuk mempekerjakan Habibie, namun kesemuanya ditolak oleh Habibie.
Habibie menerima pekerjaan di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, Hamburg. Di perusahaan tersebut, Habibie mengembangkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika yang dikenal sebagai Habibie Factor, Habibie Theorem, and Habibie Method. Selama bekerja untuk Messerschmit, Habibie berkontribusi pada pengembangan pesawat Airbus A-300B. Pada tahun 1974, Habibie dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan.
Karir Habibie di Indonesia
Anggota Partai Golongan Karya
Masa Wakil Presiden
Masa Presiden
Saat Menjabat sebagai Presiden, Habibie melakukan berbagai reformasi di bidang politik. Februari 1999, Habibie selaku Presiden meloloskan sistem Multipartai. Berdasarkan peraturan ini, partai politik tak lagi terbatas pada tiga partai seperti yang terjadi di masa Orde Baru pimpinan Soeharto. Selain itu, Partai politik juga tidak harus menjadikan Pancasila sebagai ideologi partai. Hal ini mengakibatkan banyak partai bermunculan, tercatat ada 48 partai mendaftar sebagai peserta Pemilu Legislatif 1999.
Bulan Mei 1999, Pemerintahan Habibie juga mengesahkan Undang-undang Otonomi Daerah. Undang-Undang Otonomi Daerah adalah langkah awal dalam desentralisasi pemerintahan Indonesia sehingga memungkinkan Provinsi untuk memiliki peran aktif secara langsung dalam mengatur Provinsi mereka. Selain itu pemerintahan Habibie juga mengesahkan Undang-Undang Anti Monopoli atau Undang-undang Persaingan Sehat.
Lembaga Pers juga memiliki kebebasan dalam menerbitkan informasi meskipun Lembaga Penerangan masih terus ada. Habibie juga membebaskan tahan politik, diantaranya Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, dan Xanana Gusmão.
Habibie di Tahun 1999 memimpin secara langsung pemilihan legislatif yang dilakukan umum. Pemilihan umum ini merupakan pemilihan umum pertama sejak tahun 1955. Pelaksanaan Pemilihan Umum ini diawasi secara langsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU merupakan lembaga independen yang dibentuk secara khusus mengawasi Pemilu yang tidak berisikan anggota mentri pemerintah sebagaimana yang biasa dilakukan selama masa Orde Baru.
Pengangkatan Habibie sebagai Presiden Indonesia menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Pihak yang Proberanggapan bahwa pengangkatan Habibie sebagai Presiden sudah sesuai dengan konstitusi yang termaktub pasal 8 Undang-undang Dasar 1945 di mana dalam pasal tersebut dinyatakan "bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya". Sedangkan pihak yang kontra berpendapat bahwa Pengangkatan Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia tidak Konstitusional, sebab dalam pasal 9 Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa "sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR".
Permasalahan Timor Timur
Akhir dari Masa Kepresidenan Habibie
Pasca Masa Kepresidenan
Publikasi
Karya-Karya Habibie
![]() |
Habibie & Ainun |
- 1965 | B. J. Habibie | Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe | Disertasi di RWTH Aachen
- 1968 | B. J. Habibie | Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH
- 1969 | B. J. Habibie | Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH
- 1970 | B. J. Habibie | Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH
- 1971 | B. J. Habibie | Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen | Presentasi dalam Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
- 1986 | B. J. Habibie [Penulis] ; B. Laschka [Editors] | Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia | Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute | diterbitkan Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt
- 1990 | B. J. Habibie | Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd
- 2006 | B. J. Habibie | Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (kisah peristiwa tahun 1998)
- 2009 | B. J. Habibie | Habibie dan Ainun | diterbitkan The Habibie Center Mandiri (kisah Ainun Habibie)
- Pesawat N-250 Gatot Kaca.
2015/11/22
Biografi Singkat Soekarno
Profil Umum Soekarno
![]() |
Ir. Soekarno |
Istri-Istri Soekarno dan Anak-Anak Soekarno:
- Oetari (1920–1923) | Anak: -
- Inggit Garnasih (1923–1943) | Anak: -
- Fatmawati (1943–1956) | Anak: Guntur Soekarnoputra (1944) | Megawati Soekarnoputri (1947) | Rachmawati Soekarnoputri (1950) | Sukmawati Soekarnoputri (1952) | Guruh Soekarnoputra (1953)
- Hartini (1952–1970) | Anak: Taufan Soekarnoputra (1951-1981) | Bayu Soekarnoputra (1958)
- Kartini Manoppo (1959–1968) | Anak: Totok Suryawan Soekarnoputra (1967)
- Ratna Sari Dewi (1962–1970) | Anak: Kartika Sari Dewi Soekarno (1967)
- Haryati (1963–1966) | Anak: Ayu Gembirowati
- Yurike Sanger (1964–1968)
- Heldy Djafar (1966–1969)
Riwayat Pendidikan Soekarno
- Eerste Inlandse School, Mojokerto - Pendidikan setara sekolah dasar
- Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto - Pendidikan setara sekolah dasar (1911-1915)
- Hogere Burger School (HBS), Surabaya (1915-1921)
- 1920 - Technische Hoge School, Bandung (1921, berhenti kemudian mendaftar ulang 1922 dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1926)
Karya-Karya Soekarno
Karya Soekarno Sebagai Insinyur
![]() |
Gedung Conefo atau sekarang lebih dikenal sebagai Gedung MPR |
- Masjid Istiqlal (1951)
- Monumen Nasional (1960)
- Rancangan skema Tata Ruang Kota Palangkaraya yang diresmikan pada tahun 1957
- Gedung Conefo
- Gedung SarinahHotel Indonesia (1962)
- Monumen Pembebasan Irian Barat
- Wisma Nusantara
- Tugu Selamat Datang
- Patung Dirgantara
- Tahun 1955 Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji dan Soekarno tergerak memberikan sumbangan gagasan arsitektural kepada pemerintah Arab Saudi untuk membuat bangunan tempat melakukan sa’i dibuat menjadi berjalur dua yang terdapat dalam bangunan berlantai dua. Pemerintah Arab Saudi meresponnya dengan melakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjidil Haram di tahun 1966, termasuk membuat tempat melasksanakan sa'i menjadi lantai bertingkat dan membuat jalur untuk melaksanakan tawaf menjadi dua jalur
Buku Karya Bung Karno
![]() |
Sampul Buku Karya Ir. Soekarno |
- 1933 | Sukarno | Bung Karno Tentang Marhaen Dan Proletar
- 1933 | Sukarno | Mencapai Indonesia Merdeka
- 1951 | Sukarno | Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial
- 1951 | Sukarno | Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
- 1957 | Sukarno | Indonesia Merdeka
- 1959 | Sukarno | Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 1
- 1960 | Sukarno | Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 2
- 1960 | Sukarno | Amanat Penegasan Presiden Soekarno Didepan Sidang Istimewa Depernas Tanggal 9 Djanuari 1960
- 1962 | Sukarno | Kepada Bangsaku : Karya-karya Bung Karno Pada Tahun 1926-1930-1933-1947-1957
- 1962 | Sukarno | Pantja Sila Sebagai Dasar Negara
- 1964 | Sukarno | Tjamkan Pantja Sila ! : Pantja Sila Dasar Falsafah Negara
- 1964 | Sukarno | Re-So-Pim: Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional
- 1964 | Sukarno | Komando Presiden/Pemimpin Besar Revolusi: Bersiap-sedialah Menerima Tugas untuk Menjelamatkan R.I. dan untuk Mengganjang "Malaysia"!
- 1964 | Sukarno | Tahun "Vivere Pericoloso"
- 1965 | Sukarno, Cindy Adams | Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
- 1965 | Sukarno | Wedjangan Revolusi
- 1965 | Sukarno | Tjapailah Bintang-Bintang di Langit: Tahun Berdikari
- 1965 | Sukarno | Pantja Azimat Revolusi
- 1966 | Sukarno | Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah
- 1970 | Sukarno | Nationalism, Islam and Marxism
- 1984 | Sukarno | Pancasila sebagai Dasar Negara
- 1984 | Sukarno | Ilmu dan Perjuangan
- 1985 | Sukarno | Pancasila dan Perdamaian Dunia
- 1986 | Sukarno | Amanat Proklamasi Jilid IV: 1961-1966
- 1987 | Sukarno | Bung Karno Dan Pemuda: Kumpulan Pidato Bung Karno Di Hadapan Pemuda, Pelajar, Mahasiswa Dan Sarjana, 1952-1960
- 1988 | Sukarno | Warisilah api Sumpah Pemuda: kumpulan pidato Bung Karno di hadapan pemuda, 1961-1964
- 1988 | Sukarno | Kepada Bangsaku
- 1989 | Sukarno | Bung Karno dan ABRI: kumpulan pidato Bung Karno dihadapan ABRI, 1950-1966
- 1990 | Sukarno | Bung Karno dan Islam: kumpulan pidato tentang Islam, 1953-1966
- 1999 | Sukarno | Negara Nasional Dan Cita-Cita Islam: Kuliah Umum Presiden Soekarno
- 2000 | Sukarno | Bebaskan Irian Barat: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno Tentang Pembebasan Irian Barat, 17 Agustus 1961, 17 Agustus 1962
- 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Tata Dunia baru
- 2001 | Sukarno | Bung Karno Menggali Pancasila: Kumpulan Pidato
- 2001 | Sukarno | Empat Pidato Penting Bung Karno
- 2001 | Sukarno | Bung Karno: Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia - Kumpulan Pidato
- 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Ekonomi Berdikari: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
- 2001 | Sukarno | Mutiara Kata Bung Karno
- 2001 | Sukarno | Bung Karno, Gerakan Massa dan Mahasiswa: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
- 2001 | Sukarno | Bung Karno, Wacana Konstitusi dan Demokrasi: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
- 2001 | Sukarno | Bung Karno dan Partai Politik: Kenangan 100 Tahun Bung Karno
- 2006 | Sukarno | Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
Film-Film terkait Soekarno
![]() |
Poster Film Soekarno |
- 1982 | The Year of Living Dangerously | Film Filipina | Soekarno diperankan oleh actor Filipina, Mike Emperio
- 1982 | Pengkhianatan G 30 S/PKI | Soekarno diperankan oleh Sosiolog dan penulis Umar Kayam
- 1982 | Djakarta 66 | Sekuel kedua dari Pengkhianatan G 30 S/PKI | Soekarno diperankan oleh Sosiolog dan penulis Umar Kayam
- 1997 | Blanco, The Colour of Love | versi terakhir serial televisi, Api Cinta Antonio Blanco | Aktor Indonesia Frans Tumbuan berperan sebagai Sukarno
- 2005 | Gie | Soultan Saladin, -Aktor Indonesia- memerankan Sukarno
- 2013 | 9 Reasons | Berkisah tentang Bung Karno dan Sembilan Istrinya| Sukarno diperankan oleh Aktor Indonesia, Tio Pakusadewo
- 2013 | Soekarno: Indonesia Merdeka | Aktor Indonesia Ario Bayu memainkan peran sebagai Sukarno
- 2013 | Bung di Ende | Aktor Indonesia Baim Wong memerankan | Kisah hidup Soekarno selama diasingkan di Ende, Flores
- 2015 | Guru Bangsa: Tjokroaminoto | Dave Mahenra mengambarkan Sukarno | Film terkait biografi Oemar Said Tjokroaminoto, nasionalis yang juga selaku mentor para pemimpin perjuangan (termasuk Sukarno) menuju kemerdekaan Republik Indonesia.
2014/11/24
Biografi John F Kennedy JFK
Biografi Soekarno
Masa Kecil dan Remaja Soekarno
Biografi Soekarno | Riwayat Pendidikan Soekarno
![]() |
Ir. Soekarno |
Kiprah Politik Soekarno
Masa Pergerakan Nasional
Masa Penjajahan Jepang
Masa Perang Revolusi
![]() |
Pembacaan Teks Proklamasi Oleh Bung Karno, 17 Agustus 1945 |
Masa Kemerdekaan
Masa Keterpurukan
Sakit hingga Meninggalnya Soekarno
![]() |
Foto Terakhir Soekarno Sewaktu Hidup |
Isi Komunike medis tersebut berisikan:
- Sabtu, 20 Juni 1970, pukul 20.30, kondisi kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan tingkat kesadaran semakin menurun.
- Minggu, 21 Juni 1970, pukul 03.50, Ir. Soekarno dalam kondisi tak sadarkan diri dan pada pukul 07.00 Ir. Soekarno dinyatakan meninggal dunia.
- Tim dokter terus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat menghembuskan nafas terakhir.
![]() |
Upacara Pemakaman Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno |
Soekarno pernah berwasiat untuk dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto berdasarkan Keppres RI No. 44 tahun 1970 memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno. Senin, 22 Juni 1970 jenazah Soekarno di kirim ke Blitar. Jenazah Soekarno dimakamkan tepat di samping makam ibundanya. Upacara pemakaman Soekarno dipimpin langsung oleh oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. Kepergian Soekarno ditetapkan sebagai masa berbung nasional selama satu minggu.