2015/03/15

Biografi Singkat Iwan Fals

Musisi yang Sering Mengkritik Lewat Lagunya.

berikut mengenai biografi singkat mengenai musisi tersebut.
Indonesia memiliki sebuah kebanggan terhadap putra-putri yang dilahirkannya. Jika di Jamaika terdapat Sosok Bob Marley, maka di Indonesia memiliki Iwan Fals. Keduanya sama-sama menyampaikan kritikan sosial melalui aktivitas yang digemarinya yaitu bermain musik. Lagu yang diciptakannya kerap mendapatkan perhatian dari pihak aparat karena lirik lagu yang dilantunkannya kerap membuat telinga aparat pemerintah memerah. 

Iwan Fals memiliki nama lengkap Virgiawan Listanto yang sering di panggil Tanto. panggilan nama Iwan Fals didapatkannya ketika beliau tenar dalam bermusik. Iwan di lahirkan pada tanggal 3 September 1961 di Jakarta oleh seorang ibu yang bernama Lies dan ayahnya bernama Haryoso. Iwan kecil termasuk anak yang sangat sensitif. Ia mudah sekali menitihkan air mata ketika melihat peristiwa yang mengharukan. Mungkin karena rasa sensitifnya inilah yang mengiringi Iwan untuk terus sensitfi dan peka terhadap keadaan disekitarnya. Sejak usa 13 tahun, Iwan suka sekali bermain gitar. Iwan pernah tinggal di Jeddah Arab Saudi dan gitar merupakan teman yang sering menghiburnya. Gitar tersebut sengaja dibawa dari Indonesia dan sering kali memainkan lagu " Sepasang Mata Bola" dan "Waiya". 

Sewaktu  pulang dari Jeddah menuju Indonesia, beliau memainkan gitarnya dalam pesawat sehingga mendapatkan perhatian dari penumpang lainnya. Ketika selesai memainkan gitar, salah seorang pramugari menghampiri dan meminjam gitarnya. Pramugari tersebut membantu Iwan dalam memperbaiki stem gitarnya supaya hasil petikannya enak didengar. Selain itu, pengalaman lain yang dimiliki oleh Iwan ketika berada di masa SMP. Ketika itu Iwan bersekolah di SMP 5 Bandung. Iwan gengsi ketika ada seorang perempuan yang bisa lihai bermain gitar sehingga dia pun memberanikan diri untuk unjuk gigi pada saat itu. Setelah kejadian itu, Iwab terpilih menjadi pemain gitar di vokal grup sekolahnya.

Saking sukanya bermain gitar, Iwan kerap kalii menghabiskan waktunya untuk bermain gitar. Keasyikan itupun berdampak buruk terhadap pendidikannya. Iwan mulai tak peduli dengan sekolahnya, ia mulai membolos dan bahkan sampai harus pindah sekolah. Diusianya yang menginjak dewasa, Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos). Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniahi tiga orang anak yaitu Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayyu Rambu Robbani.

Ketika Iwan merasa sendiri dan kesepian, ia merasa bahwa gitar bisa menjawab kesepiannya. Ketika ia mulai bisa membuat lagu, ia mulai mencari penghasilan dengan cara mengamen. Setelah lama belajar bermusik dengan mengamen dan pentas di panggung-panggung kecil, akhirnya datang juga ajakan seorang produser untuk bermusik dengan serius di Jakarta. Demi mensukseskan niatnya Iwan merelakan sepeda motornya untuk dijual dan digunakan untuk biaya rekaman. Album pertama yang mereka kerjakan tak laku di pasaran sehingga Iwan pun harus kembali dengan profesinya sebagai pengamen. Iwan mengamen dengan cara mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Ternyata album Sarjana Muda banyak diminati masyarakat dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Iwan kemudian berhenti mengamen setelah anak keduanya Cikal lahir pada tahun 1985. 

Sewaktu konser, Iwan terkadang sengaja menyanyikan lagu-lagu yang tidak dapat dijual bebas karena harus berurusan dengan pihak keamanan yang mengatakan bahwa lagu-lagu yang diciptakannya memicu stabilitas negara. Pada bulan April 1984, Iwan harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diintrogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi, Pola Sederhana dan Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan sering mendapatkan teror. 

Pada tahun 1989, nama Iwan mulai meroket dengan lagu unggulan yaitu  Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal hingga sekarang. Perjalan karier Iwan terus menanjak ketika ia bergabung dengan Kantata Takwa tahun 1990 yang didukung penuh oleh pengusah Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia hingga sekarang. 

Selain gemar bermain musik, Iwan juga sangat gemar dunia olahraga. Tercatat, ia pernah meraih gelar juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989. Namun begitu, prestasinya di bidang musik tertaplah lebih banyak. Atas karya-karyanya, ia kerap meraih penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya yaitu ' In Recognition of The contribution To Cultural Exchange Between Korea and Indonesia' pada tanggal 25 September 1999. Pada majalah musik Rolling Stone, lagunya yang berjudul ' Bongkar' menerima penghargaan 150 lagu terbaik sepanjang masa. 


Iwan Fals